Sebuah peternakan ikan di Changsha, Provinsi Hunan, Tiongkok selatan, baru-baru ini menjadi sensasi viral di media sosial karena praktik pemberian pakan yang sungguh tak lazim. Fenomena ikan makan cabai ini melibatkan pemberian cabai dalam jumlah yang luar biasa, mencapai 5.000 kilogram per hari pada masa puncaknya. Situs QiuQiu99 Klaim dari pemilik peternakan ini pun mengejutkan, yaitu bahwa praktik unik ini membuat ikan menjadi lebih segar dan memiliki rasa yang jauh lebih enak, menggabungkan tradisi kuliner pedas Hunan dengan budidaya perikanan.
Budaya Pedas Mempengaruhi Pakan Ikan
Fenomena ini terjadi di Hunan, sebuah wilayah yang sangat terkenal dengan tradisi kuliner pedasnya. Peternakan ikan yang dikelola oleh Jiang Sheng dan mantan teman sekolahnya, Kuang Ke, ini memiliki kolam seluas sekitar 4 hektar yang dihuni oleh lebih dari 2.000 ikan.
Dalam wawancaranya dengan media setempat, Kuang Ke mengungkapkan bahwa mereka secara rutin memberi makan ikan-ikan tersebut dengan berbagai jenis cabai, seperti cabai kerucut dan cabai millet—jenis cabai yang sama yang dikonsumsi manusia.
“Pada waktu puncak, kami memberi makan hingga 5.000 kilogram cabai setiap hari,” ungkap Kuang. Jumlah ini setara dengan lima ton, sebuah angka yang mencengangkan untuk pakan ternak.
Baca Juga Artikel Menarik Lainnya: https://artikelqiuqiu99.com

Klaim Rasa dan Kesehatan yang Meningkat
Mengapa para peternak ini memilih cabai sebagai pakan utama, padahal secara umum cabai lebih dikenal sebagai bumbu masakan? Kuang menjelaskan bahwa praktik ini membawa sejumlah manfaat unik pada ikan:
- Peningkatan Rasa: Klaim utama adalah ikan yang mengonsumsi cabai memiliki rasa yang lebih nikmat dan daging yang lebih gurih saat dimasak.
- Bentuk Tubuh dan Penampilan: Ikan dilaporkan mengembangkan bentuk tubuh yang lebih baik dan bahkan memiliki sisik emas yang berkilau, membuatnya tampak lebih segar dan menarik secara visual.
Jiang Sheng, yang merupakan petani ikan berpengalaman, memberikan penjelasan ilmiah di balik praktik ini. Menurutnya, ikan tidak memiliki indra perasa seperti manusia; sebaliknya, mereka lebih mengandalkan indra penciuman. Ini berarti, mereka tidak terpengaruh oleh rasa pedas (sensasi panas) dari cabai seperti yang dirasakan manusia.
“Cabai kaya akan vitamin, sama seperti tanaman air, dan ikan menyukainya,” ujar Jiang. Ia menambahkan bahwa komponen kapsaisin yang ada dalam cabai justru dapat merangsang pergerakan dan meningkatkan kesehatan usus ikan, serta meningkatkan daya tahan mereka terhadap stres.
Adaptasi Ikan dan Respons Netizen
Awalnya, ikan-ikan di kolam itu sempat ragu dan kurang tertarik saat cabai mulai ditambahkan ke pakan mereka. Namun, setelah periode adaptasi, Kuang mengklaim bahwa kebiasaan mereka berubah drastis. “Sekarang, ketika kami menambahkan rumput dan cabai, mereka justru lebih suka cabai,” katanya.
Kuang juga memberikan analogi humoris: “Ketika kita makan makanan pedas, kita minum air, kan? Ya, mereka hidup di air, jadi meskipun pedas, mereka hanya minum lebih banyak untuk mengatasinya.”
Video viral ini sontak memancing berbagai reaksi dari netizen global. Banyak yang berkomentar dengan nada humor dan takjub, menghubungkan fenomena ini dengan budaya kuliner pedas di Hunan.
“Melihat ini terjadi di Hunan, semuanya masuk akal, cabai lokal menghasilkan ikan lokal,” komentar salah satu netizen.
“Ikan-ikannya seperti sudah dibumbui dari awal. Tinggal tambah lada Sichuan, jahe, bawang putih, dan daun bawang pasti makin enak,” sahut netizen lainnya.
Fenomena peternakan di Changsha ini menyoroti bagaimana inovasi (meski terkesan ekstrem) dalam praktik pertanian dan peternakan dapat dipengaruhi oleh budaya lokal, menghasilkan produk unik dengan klaim rasa yang berbeda dari biasanya.





